Main seharian di Indramayu





Kenapa Indramayu bangju?! 

Hal pertama yang mendasari pemilihan Indramayu sebagai destinasi karena berdasarkan aplikasi pencarian tiket kereta api jadwal kereta Jakarta - Indramayu punya waktu yang pas untuk melakukan one day trip exploration. Oiya, untuk menuju Indramayu stasiun kereta terdekat adalah Jatibarang dan Haurgeulis, jika ingin menuju kota Indramayu sebaiknya kita memilih stasiun Jatibarang karena jaraknya yang lebih dekat dengan perkiraan waktu tempuh 30-45 menit perjalanan menggunakan mobil atau motor. Menuju Indramayu saya memilih KA. Fajar Utama YK (Pasar Senen - Jatibarang) pukul 06:15-08:38 dan kembali ke Jakarta pada malam hari dengan KA. Tegal Bahari (Jatibarang-Pasar Senen) pukul 19:03-21:17.

Selain transportasinya yang flexible dan murah ternyata indramayu mempunyai beberapa spot yang menarik untuk dieksplorasi. Setelah riset dan mencari informasi munculah beberapa target spot yang akan dieksplorasi antaralain; Tempat Pelelangan Ikan, Pantai & Hutan Mangrove Karangsong, Kawasan Kota lama di tepian sungai Cimanuk, Islamic Center dan Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah di Pakandangan.

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong

Setelah tiba di stasiun Jatibarang hal yang saya lakukan pertama kali adalah sarapan pagi, ya maklum saja sejak subuh tadi belum mengisi perut dengan makanan. Sembari melahap sarapan saya iseng-iseng mencoba membuka aplikasi ojek online dan ternyata ojek online ada di Indramayu. Karena kemarin saya tidak eksplore sendirian akhirnya memilih gocar. Tarif dari stasiun menuju TPI Karangsong sebesar Rp. 84.000,- tapi ditengah perjalanan saya berinisiatif untuk menyewa gocar tersebut satu hari dengan harga sewa Rp.350.000,-/hari dengan Mas Tris sang driver yang ternyata asik diajak main dan eksplore.

area tambak sepanjang jalan menuju Karangsong

Kira-kira 45 menit mobil kami melaju di jalan Indramayu yang sepanjang perjalanan didominasi oleh sawah dan area tambak. Cuaca Indramayu siang itu sangat terik dan kami menuju area pantai yang sudah kebayang gimana panasnya nanti. Tiba di TPI Karangsong sudah terbilang siang namun aktifitas nelayan di pelelangan tersebut masih ramai sehingga banyak aktifitas nelayan yang bisa dijadikan objek photo. Begitu memasuki area pelelangan saya tertarik pada beberapa tumpukan ikan yang jujur baru disitu saya melihat wujudnya. Ada ikan panjang yang saya lupa namanya apa dan jenis ikan seperti lele namun lebih besar ternyata ikan tersebut adalah ikan Manyung atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan Jambal. Berbicara soal manyung ini saya jadi teringat tulisan yang saya baca mengenai kuliner dengan bahan dasar kepala ikan ini dan membulatkan tekat untuk mencobanya siang ini.


tumpukan ikan Manyung/Jambal Roti

TPI Karangsong

Di dalam area pelelangan aktifitas bongkar muat ikan terus berlangsung, sepertinya sudah menjadi pesanan beberapa orang atau bandar ikan di Indramayu karena ikan-ikan tersebut sudah diberi label. Satu keanehan yang saya jumpai di TPI ini adalah tidak adanya Lalat di arean ini. Untuk area yang amis dan becek ini kehadiran Lalat merupakan suatu kewajaran bukan?!. 

Setelah puas mengambil gambar kemudian melanjutkan perjalanan menuju Hutan Mangrove Karangsong yang berada 1,3 km ke arah timur.

objek photo

Pantai & Hutan Mangrove Karangsong

Sedikit maju menyusuri sungai menuju muara saya tiba di area parkir pantai Karangsong. Pantai ini memiliki karakter yang sama dengan pantai lain di sepanjang pantai utara Jawa yakni berpasir cokelat, air laut cokelat dan banyak sampah sehingga saya tidak banyak menghabiskan waktu di pantai ini dan memilih untuk mengeksplorasi hutan Mangrove.

pantai Karangsong

Ditepian sungai saya melihat bangunan permanen berupa loket, area tunggu dan dermaga yang terbilang rapih. Kemudian saya berjalan menuju bangunan tersebut untuk membeli tiket. Setelah membeli tiket seharga Rp.15.000,- untuk pulang-pergi perahu datang dan tidak menunggu penuh perahu langsung berangkat kembali mengantarkan kami menuju dermaga didalam kawasan hutan mangrove.

Selepas dermaga perahu kami menyusuri sungai memasuki area hutan mangrove. Air sungai bersih dan terawat dengan baik, disepanjang perjalanan kami melihat banyak sekali Bangau dan berbagai jenis burung lain, rupanya hutan mangrove ini menjadi habitat bagi berbagai jenis burung disini. Menyenangkan sekali melihat masih banyaknya jumlah burung yang ada. Karena jumlahnya yang banyak, suasana hutan mangrove menjadi tidak terlalu sepi.
  


  
perahu menuju hutan mangrove | Bangau & Burung


Tiba di dermaga kami disambut menara pandang berwarna orange yang tidak terlalu tinggi, kami bergegas menaiki anak tangga tapi petugas memberitahu kami kalau ada menara lain yang lebih tinggi di tepi pantai di dalam hutan mangrove sehingga kami mengurungkan niat menaiki menara yang satu ini. Melanjutkan perjalanan menuju pantai kami berjalan diatas jembatan kanopi bambu. Semakin kedalam jalur yang dilewati akan memasuki area dimana akar dan batang mangrove semakin meninggi tapi justru suasana akan semakin gaduh karena suara bangau ditambah dengan suara serangga.

jembatan kanopi bambu
Kurang lebih 10 menit menyusuri hutan mangrove akhirnya kami tiba di pantai. Awalnya kami berfikir ini pantai Karangsong ternyata pantai ini memiliki nama lain yaitu pantai Asmara (ejiyeee), entah kenapa pantai ini diberi nama pantai Asmara mungkin pantai ini menjadi tempat muda mudi memadu kasih. Yang menarik dari pantai ini adalah adanya jejeran pohon cemara laut yang sangat bagus menjadi spot photo.

simulasi pantai "Asmara"

jejeran cemara laut

Disini kami menikmati suasana pantai, berphoto dan menaiki menara pandang yang tadi diinformasikan petugas tadi. Untuk ukuran menara pandang, menurut saya menara ini masih kurang tinggi karena begitu tiba diatas kita masih terhalang oleh mangrove. Kemudian kami kembali ke dermaga melewati area hutan mangrove tetapi jalur yang berbeda dengan arah datang kami, jadi jalur kanopi bambu tadi dibuat melingkar di dalam kawasan, sehingga jalur masuk dan keluar memiliki arah yang berbeda. Tiba di dermaga sudah ada kapal yang menunggu, kami langsung naik dan melanjutkan perjalanan menuju dermaga awal di area parkir. Perjalanan kami lanjutkan menuju target kuliner untuk makan siang disebuah rumah makan tak jauh dari Pantai Karangsong.

view dari menara pandang

Mencicipi kuliner khas "Gombyang Manyung"

Mobil Mas Tris melaju menuju ke rumah makan yang sebelumnya sudah kami rencanakan untuk mencicipi kuliner khas Indramayu, Gombyang Manyung. Kuliner berbahan dasar kepala ikan Manyung ini memiliki cerita unik. Jadi ikan Manyung atau kita lebih mengenal sebagai ikan Jambal merupakan hasil laut yang melimpah di Indramayu, namun permintaan pasar hanya kepada dagingnya saja. Jadi bagian lain dari ikan ini nyaris tidak berguna dan terbuang sia-sia.

Beberapa penduduk memanfaatkan kepala ikan ini menjadi sebuah makanan. Kondisi nelayan di Indramayu adakalanya mengalami masa paceklik dimana hasil tangkapan akan menurun, nah kehadiran kepala ikan ini menjadi penolong mereka dimasa-masa paceklik. Namun pada masa sekarang, masakan ini bukan hanya menjadi penolong disaat paceklik melainkan menjadi kuliner khas yang diburu orang baik dari maupun luar Indramayu. Sebut saja Pak Warto pemilik Rumah Makan Panorama ini yang berhasil memanfaatkan dan menjadikan Gombyang Manyung sebagai menu utama. Rumah makan yang berada ditengah area tambak udang ini berbentuk rumah panggung diatas kolam ikan dan memiliki area parkir yang cukup luas.


RM. Panorama


Tekstur Gombyang Manyung berkuah kuning memiliki rasa yang segar ditambah irisan tomat dan cabai merah menjadikan makanan ini sangat pas dimakan siang hari dan pas dengan cuaca Indramayu yang cenderung panas. Tak mau kalah kami memesan 2 porsi Gombyang Manyung ditambah menu lain sebagai pelengkap. Begitu masuk kemulut rasa segar menguasai mulut, begitu nikmat dan bagian ternikmatnya adalah ketika kita menyeruput daging yang menempel pada tulang kepala ini. Luar biasa!!!  

Gombyang Manyung

Pecinan Cimanuk

Setelah mengisi perut dengan Gombyang Manyung saya dan teman-teman melanjutkan eksplorasi kami menuju kawasan kota lama di tepian sungai Cimanuk. Tak sampai 20 menit mas Tris menurunkan kami di sebuah kawasan dengan jejeran bangunan tua bergaya Tionghoa, menurut beberapa sumber yang saya baca kawasan tepian sungai Cimanuk mulai dihuni oleh warga Tionghoa sekitar pertengahan abad 17, ini berdasarkan catatan dalam Sejarah Indramayu yang menyebutkan bahwa pada tahun 1678 ada seorang Tionghoa menantu dari Wangsa Perdana menjadi syahbandar, pejabat yang mengawasi lalu-lintas perdagangan yang keluar masuk pelabuhan Cimanuk

Menyusuri jalan Cimanuk, kami mendapati beberapa bangunan yang umumnya tidak terawat namun memiliki bentuk dan ciri yang khas bergaya Tionghoa memudahkan kami mengidentifikasi bahwa kawasan ini merupakan pecinan. Menyusuri jalan dari perempatan pasar burung hingga ke ujung jalan didominasi oleh rumah tinggal kemudian di ujung jalan kami mendapati bangunan yang sedikit berbeda dari bangunan lain karena bangunan ini bergaya eropa, Gereja Kristen Indonesia Tjimanuk.

Gereja Kristen Indonesia Tjimanuk

Berdiri sejak abad ke-19, keberadaan Gereja Kristen Indonesia  (GKI) tidak bisa terlepas dari seorang yang bernama Ang Boen Swie. Boen Swie merupakan peletak dasar berdirinya jemaat Indramayu yang dalam perkembangannya mendirikan gereja ini. Ketua Institut Kebudayaan Asia Tenggara Peiching, Prof. Kong Yuan Chi dalam bukunya CungKuo Yintunisia Wen Hwa Ciao Liu (Silang Budaya Tiongkok Indonesia) mengatakan Jemaat GKI Indramayu adalah jemaat Tionghoa pertama di Jawa bahkan di Indonesia, termasuk Ang Boen Swie Ang Boen Swie lahir pada tahun 1813 dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ia berkerja sebagai pedagang kelontong keliling yang berjalan kaki untuk menjajakan daganganya.Sudah lama  Ang Boen Swie tidak memiliki ketenangan batiniah, dosa dan kematian terus menerus mengusik hati serta mengganggu pikirannya. Konon ditengah pergumulan mencari ihwal makna hidup ia melihat sebuah perahu kecil yang terlepas dari tali penambatnya terombang-ambing tak tentu arah dipermainkan air Cimanuk.

Ang Boeng Swie merenung seraya menatap awan langit dan matahari. Namun Ang Boeng masih juga belum berhasil menemukan jawaban yang memuaskan prihal dosa dan kematiandan jawaban tentang keselamatan yang dirindukannya. Hingga akhirnya ia singgah di rumah orang Belanda yang bernama Herrklots di Karangampel yang sedang membaca kitab perjanjian baru terjemahan bahasa Jawa. Hatinya pun tersentuh dan menemukan jawaban yang selama ini dicarinya. Pada tanggal 13 Desember 1858, 6 orang dari keluarga Ang Boen Swie, 4 orang dari keluarga Lauw Pang, Tjeng Sam Yan serta istrinya ditambah Lie Hong Leng dan Tji Tek, dibaptis oleh pendeta J.A..W.Krol dari gereja Belanda di Cirebon. 14 orang inilah yang menjadi cikal bakal jemaat GKI indramayu dan tanggal baptis mereka diperingati sebagai hari jadi jemaat GKI Indramayu.

Sejak itu rumah keluarga Ang Boeng Swie dijadikan tempat pertemuan jemaat. Dan pada tahun 1876, dibangun  sebuah rumah gereja yang pertama di Indramayu diatas tanah pemberian seorang nyonya yang dermawan (non kristen). Namun kemudian bangunan itu berubah fungsi,  maka seorang yang kaya raya waktu saat itu bernama  Tjan Hiang Eng memberikan sebuah gedung yang baru untuk dibuat menjadi gedung gereja. Gedung gereja yang baru ini resmi dipakai pada tanggal 22 juli 1888. Setelah 20 tahun, maka atas kesepakatan bersama, gedung gereja ini dibongkar untuk dibangun kembali gaya Eropa, yang diresmikan penggunaan tahun 1912 sampai sekarang.

GKI Tjimanuk Indramayu

Selepas dari GKI Tjimanuk kami melanjutkan eksplorasi menuju sanggar tari topeng milik almarhumah Mimi Rasinah seorang maestro tari topeng di daerah Pakandangan. Dalam perjalanan membeli Mangga Indramayu sebagai buah tangan. Ada dua jenis buah mangga khas Indramayu yang terkenal Gedong Gincu dan Cengkir. Karena masih awal musim mangga, harga relatif mahal dan jumlahnya masih tidak terlalu banyak tapi lumayan untuk mengobati rasa ingin tahu kami.



Mangga Gedong Gincu

Mangga Cengkir


Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah

Beberapa hari sebelum kami berangkat ke Indramayu saya sempat menghubungi teh Aerly Rasinah pengurus sekaligus penerus almarhumah Mimi Rasinah untuk menyakan beberapa hal termasuk izin menyaksikan proses latihan di sanggar. Sesuai janji kami tiba di sanggar sebelum jam 3 sore, karena hari itu Sabtu sanggar tidak sepenuh hari Minggu tapi masih terlihat beberapa anak yang sedang latihan. Selain kami ada beberapa pengujung lain yang ingin melihat proses latihan termasuk beberapa media TV yang ingin meliput.

Disela menyaksikan tarian kami berbincang dengan teh Aerly, dari perbincangan tersebut saya menangkap pesan bahwa sebagai penari Teh Aerly memiliki tugas untuk tetap menjaga konsistensi dan eksistensi Tari Topeng ini. Sebagai penari bukan hanya sebagai hobby atau profesi tapi lebih sebagai tugas negara yang harus dilaksanankan. Sanggar ini rupanya termasuk yang diperhitungkan keberadaannya karena jika ada permintaan tari topeng tampil baik di panggung daerah hingga panggung kenegaraan biasanya akan memilih sanggar ini. Ketika kami berkunjung, selain sibuk melatih teh Aerly juga sibuk mempersiapkan penampilan di beberapa negara seperti Australia dan Belgia.

Aerly Rasinah : penerus almarhumah Mimi Rasinah

Beberapa anak berlatih, rata-rata berusia 6 sampai belasan tahun. Yang menarik lagi adalah awalnya saya mengira iringan musik yang dimainkan berasal dari suara kaset atau musik rekaman lain, ternyata iringan  musik tersebut dimainkan langsung oleh beberapa anak laki-laki. Rasanya bangga melihat salah satu budaya bangsa masih eksis dan tetap diperkenalkan kepada generasi muda.
 
anak-anak berlatih tari topeng


Karena hari sudah mulai sore dan kami harus mengejar kereta di stasiun Jatibarang kami melanjutkan perjalanan ke Islamic Center yang lokasinya tidak jauh dari sanggar ini. Di islamic Center kami hanya sebentar untuk melaksanakan sholat magrib dan mengambil beberapa photo dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju stasiun Jatibarang. Pukul 19.03 KA. Tegal Bahari (Jatibarang-Pasar Senen) bertolak menuju Jakarta.

Bagi saya pribadi Indramayu memiliki banyak kejutan dan diluar ekspektasi. Mungkin beberapa orang akan setuju dengan saya ketika disodorkan Indramayu sebagai tujuan eksplorasi akan berkata “ihhh ada apaan disana?!” tapi begitu tiba disana tidak akan menyangka apa yang akan kita temui. “ya… hitung-hitung menambah referensi dan wawasan destinasi daerah”.

Comments

Popular Posts