Main ke Kediri : Bagian 2 keliling kota Kediri



Tujuan saya mengeksplorasi Kediri adalah salah satunya melihat secara langsung Gereja Katolik Puhsarang yang sejak sekolah hingga kuliah saya hanya melihatnya dari buku-buku arsitektur saja. Selain gereja itu spot-spot lain terutama bangunan kolonial dan peninggalan masa lampau di kota ini menjadi target saya. Namun dengan keterbatasan waktu eksplorasi yang saya miliki akhirnya saya memfokuskan ekplorasi peninggalan di pusat kota saja. Beberapa tempat yang saja eksplorasi pada cerita kali ini antaralain ; Soto Podjok, kawasan Pecinan, Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Jembatan Lama, Gereja Merah (GPIB Imanuel), Taman Brantas dan kuliner jalan Doho. Yuk diikuti cerita saya kali ini, semoga menarik.


Setelah mengeksplorasi gereja Puhsarang dan menaruh barang di hotel, saya melanjutkan eksplorasi di kota Kediri. Kebetulan sudah tengah hari dan sudah masuk waktu makan siang setelah mencari beberapa informasi akhirnya saya mendapatkan sebuah rumah makan soto ayam yang cukup legendaris di Jawa Timur dan ternyata lokasinya dekat dengan penginapan, tak menunggu lama saya menuju ke rumah makan itu.

Soto Podjok

Terletak di sebuah persimpangan di jalan Doho, Kediri tak jauh dari kawasan pecinan berdiri sebuah rumah makan legendaris dengan menu soto ayam bernama Soto Podjok atau nama lainnya adalah Soto Podjok Setono Gedong. Menurut pemiliknya, yakni Ibu Raharjo, warung soto ayam sudah berdiri sejak tahun 1926. Beliau adalah generasi keempat. Warung soto ini selalu ramai pengunjung khususnya saat jam makan. Warung bisa menampung hingga 30 orang. Pengunjung warung ini bervariasi, orang tua hingga anak muda, dan anak-anak. 

Penamaan soto podjok mungkin merujuk pada lokasi rumah makan di sudut atau pojok persimpangan jalan. Bangunan sangat beruansa jadul, sepertinya pemilik sengaja mempertahankan kondisi tersebut. Warung ini sejak dulu warnanya bernuansa kuning muda cerah terutama interiornya. Di bagian eksterior, warna cat kuning cerah itu dikombinasi dengan putih. Kesan ini membuat ruang terasa bersih, cerah, nyaman dan luas.

exterior warung

suasana interior warung

Soto disajikan dalam mangkok berukuran besar, dengan nasi ukuran sedang seolah mengumpul di sisi mangkok. Ukuran nasi ini sangat nyaman bagi pengunjung wanita atau yang berusia lanjut, atau yang sedang diet. Keunikan lain adalah kuahnya melimpah yang sangat bening. Kuah soto sama sekali terlihat tidak menunjukkan lemak atau minyak. Soto menggunakan ayam kampung. Di atas nasi bertabur seledri lembut dan capar (atau kecambah pendek). Kecambah pendek ini biasa ditemui menemani menu nasi rawon. Ayam diiris tipis dan rapi, memudahkan saat mengunyah dan sangat lembut. Kuahnya benar-benar sedap, apalagi bila ditambah jeruk nipis. Ini yang berbeda dari soto ayam umumnya, yang bercitarasa tajam, berlemak, asin dan kuat kesan ayamnya, sebagaimana soto ayam yang sering ditemui di Surabaya atau wilayah pantai utara Jawa Timur.

Pengunjung tidak perlu terganggu dengan bunyi berisik yang berasal dari dapur soto. Bunyi dhokk-dhokk sering terdengar. Itu berasal dari botol kecap yang sengaja dihentakkan keras di meja, setelah menuang kecap ke mangkok soto. Bunyian ini khas soto ayam di sekitar Kediri, di hampir semua penjual soto ayam. Kalau tidak ingin ada bunyian itu, pengunjung bisa memberi pesan tanpa kecap. Disini pun saya mencicipi minuman Coffee Beer yang diproduksi di Jombang. Minuman ini memiliki rasa yang unik, seperti namanya perpaduan rasa ini antara kopi dan bir, tapi sekilas mirip rasa Rootbeer.


soto ayam & minuman coffee beer

Bagi penggemar kuliner, yang kebetulan bepergian di Kediri, patut mencoba soto ayam di Warung Soto Podjok ini.



Pecinan, Klenteng Tjoe Hwie Kiong

Perut sudah terisi dan siap melanjutkan eksplorasi, tujuan berikutnya adalah kawasan pecinan yang berlokasi di tepian sungai Brantas dan tidak jauh dari rumah makan Soto Podjok.

Menyusuri jalan Doho dengan bangunan rumah toko di sisi jalan beberapa diantaranya bangunan tua yang sangat memberikan citra Kediri sebagai kota dengan perekonomian yang ramai sejak dahulu. Berbelok ke arah barat ke jalan Kertosono kita masih akan menjumpai deretan rumah toko dan di ujung jalan yang mulai menikung terdapat gerbang bercat merah bermotif bata bergaris kuning dengan gaya khas Tionghoa, yap kali ini kita sudah memasuki kawasan Pecinan Kediri dan gebang tersebut adalah Klenteng Tjoe Hwie Kiong

gerbang Klenteng Tjoe Hwie
Tepat berada di tikungan, pintu gerbang klenteng (pai lou) sudah terlihat. Pintu gerbang klenteng ini tidak seperti pada klenteng umumnya yang berbentuk paduraksa, melainkan menyerupai benteng yang didominasi warna merah dan kuning. Pada pintu gerbang tersebut ditempeli tulisan “Revitalisasi Cagar Budaya Klenteng Tjoe Hwie Kiong Di Bawah Pengawasan dan Arahan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur”. Tulisan ini jelas menunjukkan bahwa klenteng tersebut telah berumur tua.

Bangunan Utama Klenteng Tjoe Hwie Kiong

Menurut informasi yang didapat, Klenteng Tjoe Hwie Kiong dibangun pada tahun 1895 oleh warga Tionghoa yang telah bermukim di Kediri. Mereka menggalang dana dengan menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk mewujudkan tempat ibadah pada waktu itu. Pada waktu itu, banyak orang Tionghoa yang berasal dari Fujian, Tiongkok yang meninggalkan negerinya untuk mengadu nasib di tempat lain. Termasuk di antaranya ada yang menuju ke Kediri melalui Sungai Brantas.

Memasuki halaman klenteng yang begitu luas ini terlihat bangunan utama klenteng berikut bangunan pendukung lainnya. Sebelum masuk bangunan utama, tepat di depan pintu terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Di sebelah kiri dan kanan pintu masuk ada kan chuang (jendela rendah yang dapat memberikan pemandangan keliling dan berbentuk bulat. Di atas wuwungan, terlihat huo zhu (mutiara api berbentuk bola) ditaruh di atas kepala orang dan diapit oleh dua xing long (naga berjalan). Sedangkan, di kanan di depan bangunan utama terdapat kim lo (tempat pembakaran kertas persembahyangan).

Keluar dari bangunan utama searah mata memandang ke barat, Anda akan melihat bangunan mirip rumah panggung berukuran kecil bercat merah. Panggung ini digunakan untuk pertunjukkan wayang potehi. Anda bisa menonton sambil duduk yang telah disediakan oleh pengurus klenteng. Wayang ini akan dilakonkan pada sore (15.00 WIB – 17.00 WIB) maupun malam hari (19.00 WIB-21.00 WIB) tapi tidak setiap hari. Pagelaran wayang Potehi ini berdasarkan pemesanan dari jemaatannya.

Tepat di belakang panggung wayang Potehi, berdiri menjulang patung  Makco Thian Siang Sing Boo. Patung seberat 18, 7 ton dengan tinggi 5 meter ini sengaja didatangkan dari Desa Buthien, Tiongkok, yang diyakini sebagai asal Makco pada 9 Oktober 2011. Makco, di kalangan orang Tionghoa dikenal sebagai dewi penolong yang welas asih. Sehingga, harapan dipasangnya patung Makco yang menghadap langsung ke Sungai Brantas ini adalah untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kedamaian masyarakat Kota Kediri.

Patung Makco Thian Siang Sing Boo

Selain bangunan utama klenteng yang menghadap ke barat atau Sungai Brantas, di sebelah kanan terdapat gedung Mitra Graha berlantai 2. Gedung ini digunakan untuk mendukung bagi bangunan klenteng secara keseluruhan. Sedangkan, di sebelah kiri klenteng terdapat gedung Pasada Graha. Gedung ini dibangun oleh PT. Gudang garam Tbk pada 24 Mei 2011. Selain untuk acara yang berhubungan dengan agenda klenteng, gedung berlantai 3 ini juga bisa disewakan untuk umum. 


deretan rumah tua di sekitar klenteng

gedung eks. bioskop Garuda 

Selain bangunan rumah dan pertokoan bergaya Tiongkok di kawasan pecinan ini juga terdapat sebuah bangunan bioskop tua yang sudah tidak berfungsi yakni bioskop Garuda. Menurut beberapa sumber yang saya peroleh, bioskop ini merupakan bioskop elit pada masanya dengan harga tiket yang relatif lebih mahal dibanding bioskop lain di Kediri. Namun, sangat disayangkan jika melihat kondisinya saat ini, bangunan bergaya art deco ini sekarang terabaikan dan tidak berfungsi lagi. 



GPIB Imanuel (Gereja Merah) 

Menyebrangi sungai Brantas menuju area kolonial pada masa lalu dengan melintasi Jembatan Lama yang merupakan salah satu bangunan cagar budaya  membawa kita ke beberapa bangunan kolonial yang masih berdiri di kota ini termasuk salah satunya adalah Gereja GPIB Imanuel atau biasa disebut dengan Gereja Merah.

Berada di sisi timur sungai Brantas bangunan gereja ini berdiri kokoh hingga saat ini. Memasuki halaman yang cukup luas untuk parkir beberapa mobil pada saat pelaksanaan ibadah, saya disambut dengan bangunan bergaya neo gothic berwarna merah tua cenderung ungu dengan menara yang tinggi menjulang dibagian tengah bangunan. Jika melihat ukuran panjang dan lebar bangunan gereja ini tidak terlalu besar, mungkin pada masa lalu jemaat kristen di Kediri jumlahnya tidak terlalu banyak.

tampak depan Gereja Merah

Mengutip dari www.kedirikota.go.id berikut sedikit sejarah mengenai gereja ini :

Selain Gereja Puhsarang yang terkenal dengan perpaduan arsitek Eropa-Jawa. Di Kediri, Jawa Timur, juga terdapat gereja tertua yang dibangun pada awal abad 19, dengan gaya arsitektur Eropa. Selain menjadi satu-satunya bangunan cagar budaya, gereja ini juga menyimpan injil kuno dari peninggalan tahun 1867.

Kerkeeraad Der Protestanche Te Kediri, itulah nama asli Gereja Protestan Barat (GPIB) di Kediri, Jawa Timur, yang saat ini dikenal dengan sebutan Gereja Merah. Gereja ini pertama kali dibangun oleh orang Belanda JA Broers pada tahun 1904. JA Broers yang kala itu seorang pendeta diutus pemerintahan Hindia Belanda untuk mengajarkan agama protestan di Kediri.

Baru pada tahun 1948, gereja ini diserahkan pemerintah Belanda kepada pengurus gereja asli pribumi. Sejak dibangun hingga saat ini, Gereja Merah baru mengalami satu kali pemugaran pada tahun 2005 lalu. Selain bangunan, interior gedung juga masih asli, seperti kaca jendela, balkon, kursi, kayu penyangga.

Gereja ini juga menyimpan kitab injil kuno berbahasa Belanda yang dibuat tahun 1867. Juga terdapat koleksi empat buah gelas kuno terbuat dari bahan perunggu. Menurut pengurus gereja, Pendeta Mery Gimon, pengurus mengaku kesulitan merawat gereja ini. 

Sebutan Gereja Merah mulai digunakan pada tahun 1994, sebelumnya gereja ini berwarna putih gading. Kemudian gereja ini seluruhnya dicat merah untuk menghemat biaya perawatan, sehingga masyarakat menyebutnya Gereja Merah. Hingga kini Gereja Merah menjadi satu-satunya gereja Se-Karisidenan Kediri yang menjadi cagar budaya.

pintu utama gereja


Jembatan Lama & Taman Brantas

Sungai Brantas sendiri adalah sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Panjang Sungai Brantas sendiri kurang lebih 320 km, diatas sungai inilah jembatan lama yang dibangun pada 18 Maret 1869 membentang sebagai satu-satunya penghubung antara Surabaya dengan Madiun kala itu.

Jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang dibangun di atas tiang sekrup yang dipasang di dalam sungai. Jembatan di atas Kali Brantas di Kediri adalah jembatan besi yang pertama di Jawa dan dianggap sebagai adikarya zamannya oleh seorang insinyur bernama Sytze Westerbaan Muurling.

jembatan lama

Dalam berbagai koleksi foto "Kediri's Photograph Museum" di Ngronggo Kota Kediri, digambarkan beberapa kali jembatan ini diterjang derasnya aliran Sungai Brantas dan yang paling parah adalah pada tahun 1954, pagar-pagarnya robon, namun karena konstruksinya yang luar biasa menjadikan jembatan ini tak bergeser sedikitpun.

Di bawah jembatan lama di sisi timur saat ini dibangun sebuah taman bernama Taman Brantas merujuk dengan lokasi taman itu berada di tepian sungai Brantas. Yang cukup membuat saya terkagum adalah keberadaan fasilitas skate park & bmx park. Awalnya saya sempat beranggapan fasilitas seperti ini apakah tepat sasaran dibangun di Kediri, namun melihat antusias anak-anak, remaja dan dewasa menggunakan fasilitas ini rasanya anggapan saya itu salah.


bmx park


Suasana taman yang mengasikan itulah yang saya rasakan ketika kaki mulai memasuki area ini. Sepertinya taman ini belum lama rampung terlihat dari pepohonan yang belum tumbuh sempurna dan masih dilakukan pekerjaan minor di beberapa bagian. Pada plaza utama taman dimana berdiri pohon trembesi besar terdapat jejeran huruf setinggi manusia bertuliskan TAMAN BRANTAS yang menjadi identitas sekaligus point interest serta spot photo di taman ini. Berjalan ke area dalam taman menuju tepian sungai, pedestrian akan menurun dengan beberpa anak tangga yang diatur agar pengunjung tidak kelelahan menyusurinya. Di tepian pedestian berjejer beberapa kursi taman dan beberapa gazebo. Taman ini berada di tepian sungai dan menghadap ke arah barat sehingga datang di sore menjadi waktu yang mengasikan.

jejeran kursi taman

Duduk-duduk sambil menikmati jajanan yang dijual di seberang taman sembari melihat aktifitas pengunjung bersepeda, bermain dan berskate board disore hari itulah yang saya lakukan hingga pada saat waktu matahari terbenam perlahan hilang ditelan Gunung Wilis. Karena sudah senja akhirnya saya kembali ke penginapan dan nanti malam saya berencana untuk wisata malam dan kuliner di kota ini.


sunset



Kuliner Malam Jalan Doho, mie & nasi goreng mbah man, Nasi pecel Tumpang

Karena lapar sudah mulai mengganggu dan sejak habis mandi sudah mencari tahu beberapa daftar tempat makan di sekitar jalan Doho akhirnya dengan sepeda motor saya menuju spot kuliner pertama. Oiya untuk informasi tambahan jalan utama disekitar jalan Doho kebanyakan memberlakukan jalur satu jalur/ one way jadi cukup membuat sedikit bingung juga ditambah karena malam minggu dan ada acara di balai kota jadi beberapa ruas jalan ditutup. Setelah sedikit berputar-putar sampai juga di spot makan pertama. Jadi setelah googling dan menemukan 2 makanan yang wajib dicoba di seputar jalan Doho ini yaitu Nasi Pecel Tumpang dan Depot Mie & Nasi Goreng Mbah Man.

Masih di sekitar jalan Doho menuju arah stasiun kereta akan menamukan gerobak yang dikerumuni banyak pengunjung, Depot Mie & Nasi Goreng Mbah Man. Melihat banyaknya pengunjung yang datang dan ulasan di internet semakin membuat saya penasaran dengan rasanya.

antrian Depot Mie & Nasi Goreng Mbah Man


Setelah memesan kemudian saya menunggu sambil meminum es jeruk dan makan beberapa kerupuk. Lumayan menunggu tapi makanan yang saya pesan belum juga datang, akhirnya saya menanyakan ke pelayan sekalian saya ingin mengambil gambar proses masaknya. Ternyata memesan makanan di depot ini harus sedikit sabar karena untuk menjaga kwalitas rasa, pesanan dimasak satu per satu, maksudnya walaupun beberapa orang datang bersamaan dan memesan menu yang sama proses masak tetap dilakukan per porsi/ satu per satu. Tapi begitu makanan datang, waktu menunggu kita akan terbayarkan dengan seporsi menu nya. Saya memesan mie godog, rasanya nikmat dengan porsi yang cukup dan kuah yang sangat memanjakan lidah saya. Mie godog ini bisa dikatakan apertizer malam itu karena saya akan mencoba makanan lain malam itu.

mie godog Mbah Man


Tak jauh dari Depot Mie & Nasi Goreng Mbah Man, tepat di trotoar jalan Doho lagi-lagi saya melihat antrian orang, ketika saya hampiri ternyata inilah Nasi Pecel Tumpang, tidak menunggu lama saya pun masuk antrian dan memesan nasi pecel ini.

antrian nasi pecel tumpang

Nasi Pecel ini terdiri dari nasi, sayuran, lauk tambahan, sambal pecel dan teburan peyek. Ketika memesan saya bertanya kepada mbak penjual pecel ini mengenai "tumpang" itu apa, jadi tumpang itu adalah bumbu kacang dengan tambahan bahan tertentu dan rasanya sedikit pedas. Jika kita memesan nasi pecel maka akan diberi siraman bumbu pecel saja, tapi ketika kita memeran nasi pecel tumpang maka selain siraman bumbu pecel akan ditambahkan pula bumbu tumpang ini. rasanya bagaimana?! ENAKKKK!!!!

lauk pilihan

nasi pecel tumpang


Malam itu perut lapar hati senang, rasanya sih belum puas untuk mengeksplorasi Kediri tapi cukup sebagai kunjungan awal. saya berjanji suatu saat nanti akan kembali mengeksplorasi kota ini. 

Perjalanan esok hari dilalui dengan perjalanan kembali ke Malang melalui jalur yang sama seperti keberangkatan saya. Eksplorasi saya ke Kediri sangat menambah wawasan saya akan destinasi. Di propinsi timur di pulau Jawa ini tersimpan lagi destinasi menarik yang layak untuk di telusuri. Saran saya, datanglah ke Kediri, karena Kediri itu... MENARIK!!! 

























Comments

Popular Posts