Main ke Kediri Bagian 1 : Gereja Katolik Puhsarang



Perjalanan kali ini saya bercerita mengenai beberapa tempat yang saya datangi di kota Kediri dalam penelusuran saya selama 1 hari 1 malam. Khusus bagian ini saya mengulas sedikit mengenai sebuah bangunan unik peninggalan masa kolonial Belanda di Indonesia namun sama sekali tidak memiliki kesamaan bentuk dengan bangunan semasanya.

Gereja Katolik Puhsarang, gereja dengan terapan arsitektur tradisional Indonesia khususnya arsitektur Jawa. Sang arsitek sengaja merencanakan bangunan ini dengan sentuhan dan kearifan lokal lingkungan setempat serta menerapkan aspek-aspek kejayaan kerajaan masa lampau. Selain bentuk, keunikan bangunan ini adalah sebagai wujud kekayaan budaya, keberagaman dan kebinekaan Indonesia. 




Kediri, sebuah kota & kabupaten yang berada di propinsi Jawa Timur. Keinginan untuk bisa menginjakan kaki dan mengeksplorasi kota ini sudah ada sejak dulu tapi baru sekarang bisa mewujudkan keinginan itu. Untuk tiba di kota ini kita dapat mencapainya dengan berbagai cara; bisa secara langsung menggunakan kereta api atau bus dari kota asal menuju Kediri atau melalui 2 kota besar Surabaya dan Malang menggunakan kereta api, bus ataupun travel. Pada kesempatan kali ini saya melalui kota Malang menggunakan sepeda motor dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam.

Memulai perjalanan pagi hari dari kota Malang menggunakan sepeda motor saya bergerak ke arah barat melewati beberapa kecamatan diantaranya; Malang - Batu - Pujon - Ngantang - Kesembon - Kandangan - Pare - Kediri. Jalur ini memiliki kesan tersendiri bagi saya karena permukaan jalan aspal yang cenderung mulus, pemandangan yang indah dengan variasi bentang alam berupa hutan, waduk dan tepian sungai ditambah lagi beberapa tempat terdapat warung-warung makan yang menjual menu khas masakan Jawa Timur. 

waduk Selorejo di Ngantang, salahsatu view di perjalanan
Setelah melewati kawasan Batu hingga Kasembon, jalan akan mulai menanjak dan berkelok tapi yang menyenangkan adalah udara di area ini sangat sejuk, malahan saya sempat berfikir saya salah kostum karena hanya menggunakan sweater yang ternyata kurang menghalagi rasa dingin yang mulai melingkupi tubuh. Karena belum sarapan, dalam perjalanan pandangan saya sempat mampir kebeberapa warung makan yang saya jumpai sejak dari Batu tadi namun, pilihan saya jatuh pada rumah makan di rest area tepian waduk Selorejo. Makan dengan lauk nasi ikan goreng dan lalapan cukup untuk membuat saya bahagia melanjutkan perjalanan menuju Kediri.

Selesai makan saya melanjutkan perjalanan melenggang diatas jalan aspal mulus berkelok hingga jalur berubah menjadi datar dan lurus ketika memasuki daerah Pare. Memang terjadi perubahan drastis ketika memasuki kota Pare, selain medan jalan yang cenderung lurus dan mulai padat, cuaca pun berubah menjadi terik. 

Setelah kurang lebih 1,5 jam perjalanan tibalah saya memasuki kabupaten kediri dengan tugu Simpang Lima Gumul sebagai ikonnya. Saya tidak berhenti di tugu ini karena memang merencanakan untuk mengeksplore tugu ini esok hari ketika perjalanan kembali menuju Malang. Karena ini merupakan simpang yang merupakan titik pertemuan beberapa jalan, saya memilih jalan menuju kawasan wisata Gunung Kelud yang merupakan arah yang sama menuju Puhsarang. Tidak sampai 30 menit dari tugu ini, akhirnya saya tiba di tujuan pertama saya gereja Puhsarang.


Gereja Katolik Puhsarang

gapura gereja Puh Sarang


Gereja Puhsarang terletak disebuah bukit kecil yang dibawahnya mengalir sungai berbatu-batu dengan sekelingnya penuh ditumbuhi pohon bambu. Bukit ini merupakan sebuah desa yang disebut desa Puhsarang, dan terletak 8 kilometer dari Kediri ke arah Barat Daya, di gunung Klotok dilereng gunung Wilis. Gereja yang di rencanakan oleh Henricus Maclaine Pont dan dibangun atas prakarsa dari Pator H. Wolters CM. pada th 1936 sampai 1937. 

Beberapa pendapat mengatakan bahwa Gereja Pusarang Kediri merupakan sebuah hasil usaha inkulturasi dan karya monumental, karena menghadirkan gaya Majapahit yang disatukan dengan gaya dari daerah lain, selain iman kristiani. Arsitekturnya sangat dipengaruhi oleh arsitektur tradisional Indonesia. Bentuk bangunan gereja ini sangat berbeda dengan bentuk gereja yang dibangun semasanya yang biasanya bergaya klasik, neo gothic, art deco dan gaya arsitektur modern lainnya. Jika sekilas melihat bangunan ini kita akan menyangka sebagai Pura bukan Gereja karena memang bentuknya yang bergaya Jawa dan material menggunakan batu kali, batu bata, dan genteng terakota.


tangga dan pintu masuk gereja Puhsarang

Tengah hari saya tiba disana, setelah parkir motor dan istirahat sejenak untuk minum dan mencicipi sate bekicot yang jujur baru pertama kali saya makan, saya melangkahkan kaki memasuki area gereja. Sebelum memasuki bangunan utama gereja kita akan melewati beberapa anak tangga batu dan lantai berundak. Lantai berundak ini dibuat untuk menyesuaikan dengan kontur tanah yang berupa tanah miring di lereng pegunungan. Selain itu, lantai berundak ini juga menciptakan beberapa serambi yang secara tidak langsung membagi area ini menjadi beberapa fungsi dan bangunan dengan gereja beraja pada lantai/serambi paling atas. Pada serambi teratas bagian yang paling menonjol adalah beberapa menara batu yang diatasnya tergantung lonceng dan salib sebagai penanda bangunan tersebut adalah sebuah gereja. 

Menyusuri anak tangga dengan dinding batu kali setinggi bahu sebagai pagar pembatas di sisinya menuntun kita tiba di serambi utama dimana bangunan utama, pendopo dan menara lonceng berada. Bangunan gereja pun berdinding bata setinggi kurang lebih 1,5 meter dengan jaring besi dibagian atasnya membuat bagian altar gereja terlihat dari luar. Altar dari batu bata merah dan patung dari batu menyerupai candi-candi peninggalan Majapahit. 

Pada bagian atap diatas altar terdapat salib yang dibuat dengan cara mengganti genteng terakota dengan kaca/ bahan transparan lain sehingga dapat dilewati sinar matahari yang efeknya ketika siang hari salib tersebut bersinar dan menjadi penerangan alami bagi gereja. Ruang utama gereja tidak terlalu besar hanya dapat menampung beberapa orang saja di bagian dalam gereja yang sisanya akan duduk di teras maupun bagian halaman gereja. Saya sempat heran karena tidak menemukan kursi di dalam gereja, tetapi saya langsung menemukan jawabannya begitu melihat karpet tergelar menyelimuti lantai dari terakota . Rupanya umat disini lesehan ketika ibadah.

interior gereja 

Ketika sedang asik mengambil gambar, saya dikejutkan dengan suara lonceng. Awalnya saya mengira sebagai penanda di gereja tapi ternyata suara lonceng tersebut berbarengan dengan kumandang suara Adzan dari masjid disekitar gereja. Rupanya ini adalah bentuk toleransi lain disini, gereja ikut serta memberi informasi waktu sholat kepada umat muslim di sekitar. 
menara & lonceng gereja

Melajutkan penelusuran saya di gereja ini saya menuju 2 bangunan berbentuk cungkup di sisi kanan-kiri bangunan utama dimana cungkup sisi kiri berisi patung Yesus dan pada cungkup sisi kanan berisi patung Maria. Kedua cungkup ini terbuat dari batu kali dan patung pengisinya pun terbuat dari batu sehingga benar-benar membuat kita merasa berada di lingkungan candi.

cungkup sisi kiri

Lanjut menyusuri tangga di sisi utara kita akan melewati gapura dan pagar batu kemudian jalan akan mengarah ke anak tangga untuk menuruni serambi menuju area pemakaman di sisi luar gereja. Jalan setapak berbatu dengan jejeran makam di kanan-kirinya menuju bangunan aula besar tempat acara gereja digelar. Pada area ini kita akan berada di sebuah halaman yang dinaungi rumpun bambu yang rindang, jika kita terus mengikuti jalan setapak ini kita akan tiba di area warung penjual makan dan jika berjalan terus akan tiba di tepian sungai. Keberadaan rumpun bambu dan berbagai pepohonan disini menjadikan area ini teduh, adeeemmmm....


aula & halaman

Tak terasa perut sudah keroncongan dan juga sudah memasuki waktu chek in penginapan sekitar jam 13.30 siang itu saya meninggalkan area Puhsarang dan melanjutkan perjalanan menuju penginapan dan spot lain di kota Kediri. Lanjut di cerita berikutnya ya, selamat menjelajah karena seiap daerah itu MENARIK!!!

Comments

Popular Posts