Main ke Minangkabau : perjalanan heritage JALAJAH NAGARI - Bagian #1


“Salamaik Datang bang", itulah kata pertama yang saya dengar ketika perjumpaan saya bersama Ade salah satu kawan lama saya yang berada di daerah lain diluar Jakarta, di Padang. Ketibaan saya di kota Padang kali ini menjadi kali ke empat saya melakukan perjalanan ke Ramah Minang ini. Bagi saya Minangkabau memiliki kekayaan yang sangat luarbiasa berlimpah untuk dieksplorasi sehingga saya selalu ingin kembali kesini. Kali ini saya ditemani dengan 5 orang perempuan teman yang sengaja ikut untuk mengeksplorasi kekayaan Ranah Minangkabau. 

Pada cerita kali ini saya akan menceritakan perjalanan selama 4 hari 3 malam ke beberapa daerah antaralain Padang, Padang Panjang, Agam, Bukittinggi, Payakumbuh, Batu Sangkar, Solok Selatan dan Solok kedalam 3 bagian, yakni;

  • Bagian 1 : Padang - Maninjau - Bukittinggi - Harau
  • Bagian 2 : Harau - Kelok Sembilan - Batusangkar - Solok Selatan
  • Bagian 3 : Solok Selatan - Solok - Padang

HARI 1 : Padang - Maninjau - Bukittinggi - Harau

Sabtu pagi itu kami memulai perjalanan menggunakan mobil Kijang Inova yang sengaja dipilih agar perjalanan lebih nyaman mengingat kami akan banyak berada di dalam mobil, jadi pemilihan kendaraan dengan space sedikit lebih besar sangat membantu. Malam sebelum berangkat saya sempat memberitahu rencana perjalanan per hari kepada teman-teman termasuk didalamnya destinasi pertama yang akan dikunjungi adalah air terjun Lembah Anai, saya menyarankan untuk merasakan kesegaran air di air terjun ini.

“saya sih biasanya dari Jakarta karena flight pertama ngga pernah mandi di rumah, nah mandinya selalu di air terjun ini” cerita saya.

Ternyata beberapa orang diantara kami tertarik untuk mandi juga di air terjun ini tapi sebelumnya kami akan sarapan Lontong Padang di sebuah rumah makan. Setelah mengisi perut kami memulai perjalanan hari ini dengan rute Padang - Padang Panjang - Agam - Bukittinggi - Payakumbuh.

Waktu tempuh kota Padang - Lembah Anai sekitar 45 menit dengan catatan jalanan lancar. Jadi yang perlu diingat adalah jalur Padang - Bukittinggi akan ramai dan macet dari siang sampai malam hari terutama di akhir pekan, untuk itu baiknya memulai perjalanan pagi hari. Sampai di air terjun Lembah Anai sudah cukup ramai sudah terlihat beberapa pengunjung lain yang sedang berpose di tepian sungai dengan latar belakan air terjun ini. Yang menarik dari air terjun ini adalah lokasinya yang berada di tepian jalan utama dan jalur kereta api Padang - Bukittinggi. 
 
air terjun Lembah Anai

Airnya sangat jernih dan sangat menyegarkan, suhu dinginnya tidak membuat badan mengigil jadi untuk mandi dan berenang cukup nyaman. Disini kami tidak lama, kurang lebih 30 menit kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi ke dua yakni Danau Maninjau.

Dalam perjalanan menuju Danau Maninjau kami sempat berhenti dua kali di kota Padang Panjang, pertama untuk mencicipi sate Mak Syukur dan kedua tertarik melihat sebuah Rumah Gadang yang cantik milik sebuah keluarga dari suku Koto berada disisi jalan utama. Awalnya kami berphoto dari luar pagar namun tak lama sang pemilik rumah muncul dan mempersilahkan masuk bahkan menawarkan kami memasuki area dalam tapi karena terburu-buru akhirnya kami hanya sampai di halaman rumah saja, rumahnya cantik dan asri. 

Rumah Gadang suku Koto di kota Padang Panjang

Perjalanan selanjutnya akan melewati daerah Pandai Sikek yakni sebuah kawasan pengrajin songket yang sangat terkenal dan juga terdapat kue Bika Talago yang sama terkenalnya. Kami hanya berhenti membeli Bika Talago dan melihat proses pemanggangan kue tersebut yang masih menggunakan tungku kayu bakar dan pinggan tembikar.

proses pemanggangan kue Bika

Perjalanan Padang sampai Pandai Sikek tadi lancar jaya namun memasuki kawasan Padang Luar perjalanan kami terhambat karena dititik persimpangan jalan ini terjadi kemacetan. Kemacetan disini dipicu karena adanya pasar dan angkutan umum yang ngetem menunggu penumpang. Disimpang inilah jalur pemisah antara yang menuju Bukittinggi dengan menuju Danau Maninjau. Jika ingin menuju kota Bukitinggi kita mengambil arah lurus dan jika ingin menuju danau Maninjau kita mengambil arah kiri melewati daerah Matur. Menuju area danau Maninjau kita harus mempersiapkan diri dengan jalan berkelok berjumlah 44 kelokan tajam jalur ini dikenal dengan Kelok Ampek-ampek (ampek adalah dialek Minang untuk angka 4) karena kalau tidak kuat dijalur ini kita akan mabuk darat. Jalur ini memiliki keunikan karena tikungannya yang tajam tapi pemandangan disini sangat luar biasa, sepanjang jalan kita akan melihat panorama Danau Maninjau. CANTIK!!!

panorama Danau Maninjau

Puas menikmati pemandangan danau Maninjau kami melanjutkan perjalanan menuju kota Bukittinggi. Sejak masuk mobil yang terngiang adalah menyantap Itik Mudo Lado Ijo khas Ngarai maka tujuan berikutnya adalah ke rumah makan tersebut. Dari Maninjau kami mengambil jalur alternatif untuk menuju kota Bukittinggi melewati Ngarai Sianok sehingga dalam perjalanan ini kami menikmati pemandangan tebing-tebing ngarai di sisi kanan dan kiri kami.  

Itik Mudo Lado Ijo ini sekilas memiliki tekstur seperti Bebek goreng dengan bumbu cabai hijau yang biasa kita jumpai perbedaanya ada pada tekstur daging bebek yang tidak terlalu kering dan sambal hijau nya yang lebih berminyak. Soal rasa tidak perlu diragukan, bayangkan saja menyantap bebek ini dengan nasi hangat ditengah suasana Bukitinggi yang sejuk, “hmmm… lamak bana”. 

Itik Mudo Lado Ijo

Tak jauh dari rumah makan ini pun terdapat beberapa spot wisata yang bisa kita datangi dengan gratis seperti pemandangan tepi sungai di ngarai dan juga sebuah jalur pematang sawah yang saat ini sedang hits-hitsnya di beberapa postingan instagram. Hari semakin sore sehingga kami langsung menuju Taman Panorama untuk melihat view Ngarai Sianok, Goa Jepang dan mengunjungi toko kaos sebagai buah tangan yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari taman ini. 

pematang sawah di sekitar RM. Itik Mudo Lado Ijo Ngarai

Sayang untuk saat ini dan beberapa bulan kedepan area taman Jam Gadang sedang direvitalisasi, semoga saja pada kunjungan berikutnya taman ini sudah cantik. Menjelang magrib kami masih singgah ke sebuah rumah makan tempat dimana masakan Ayam Pop tercipta, yap!!! RM. Family Benteng yang berlokasi tepat di pintu masuk benteng Fort de Kock. Mencicipi masakan ditempat kelahirannya sungguh sebuah pengalaman yang mengasikan.

Ayam Pop RM. Family Benteng

Kenyang dengan ayam pop kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan di area Lembah Harau. Perjalanan Bukitinggi - Lembah Harau akan memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Saya pribadi sangat tidak sabar tiba di Harau, selain karena sudah merasa lelah saya ingin melihat antusias dan rasa kagum teman-teman dengan panorama disekitar penginapan kami. Penasaran gak?? lanjut ceritanya di Bagian #2 ya…  

Comments

Popular Posts