Main Ke Penang : George Town bukan melulu Mural


Penang, sebuah pulau kecil bagian dari negara Malaysia yang jika disejajarkan memiliki jarak yang hampir sama dengan Aceh. Penerbangan langsung dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 30 menit dari Jakarta yang dibuka oleh maskapai Air Asia, Citilink dan Lion Air semakin memudahkan kita menjangkaunya. Mengeksplorasi Penang memberikan pengalaman yang menarik dan berbeda dengan daerah lain. Bagai area peleburan Penang menjadi tempat pertemuan beragam budaya Melayu, India, China, Arab dan Eropa yang jejaknya masih dapat kita temui. Soal kuliner Penang memberikan sajian yang memanjakan lidah dan cukup membuat kita mengelus-elus perut setelahnya, hmmmm…. kali ini saya akan berbagi cerita penelusuran di Penang selama 3 hari 2 malam dengan segala keseruannya. 
Mengapa memilih Penang sebagai destinasi kali ini?! Alasan terkuat adalah karena keisengan jari mencari-cari penerbangan murah di aplikasi resmi maskapai Air Asia. Mungkin inilah berkah bulan Ramadhan, Jakarta-Penang pulang pergi seharga Rp. 600.000,-. “Alhamdulillah… rezeki anak enggak sholeh-sholeh amat”. Alasan berikutnya adalah memang sudah sejak lama memasukan Penang kedalam wishlist destinasi.

Kenapa Penang Bangju?!
Sebagai seorang pecinta bangunan kolonial melihat George Town di Penang serasa menemukan surga, “hhmmm mulai agak lebay”. Jadi tuh awalnya yang ada dikepala ini Penang itu hanya George Town, bangunan tua dan mural, tapi nyatanya banyak juga yang bisa dieksplorasi selain itu. Nah di cerita kali ini saya akan kasih info beberapa destinasi yang bisa dikunjungi di Penang selama 3 hari 2 malam plus beberapa destinasi kulinernya ya. Oiya untuk transportasi kita bisa menggunakan transportasi lokal berupa Bus Rapid Penang atau transportasi online Grab.

George Town Area
Untuk memulai eksplorasi ke Penang yang perlu kita lakukan adalah mengambil penerbangan paling pagi dari Jakarta (untuk kota lain bisa cari info jadwal penerbangan di masing-masing maskapai ya) supaya sampai di Penang sebelum makan siang.
Setibanya di Bandara Internasional Penang saya memesan transportasi online menggunakan aplikasi Grab menuju penginapan di kawasan Pulau Tikus, nah untuk penginapan bisa juga dicari di pusat George Town yakni diantaranya di kawasan Lebuh Chulia, Lebuh Armenia dan sekitarnya. Lama perjalanan ke kawasan Pulau Tikus sekitar 30-40 menit. Setibanya di penginapan kami check in, menaruh barang bawaan kemudian lanjut menuju George Town. 

FYI Gaeeesss… ternyata George Town itu adalah Ibu Kota Pulau Penang dan bukan kawasan kota tua Penang aja, jadi menyebut George Town sama dengan menyebut Jakarta yang luas banget kita harus lebih spesifik menyebut destinasi kita. Nah karena laper banget dan juga sudah masuk waktu makan  siang, so… saya memutuskan untuk menuju Foodcort Penang Esplenade di area Fort Cornwallis, area ini juga sebagai titik awal penelusuran hari pertama ini.

1. Makan Siang di foodcort Penang Esplenade, City Hall, Town Hall & Victoria Clock Tower.
Foodcort ini berada di kawasan pemerintahan dan perbankan Penang sehingga akan ramai ketika jam makan siang. Pilihan  menu disini beragam mulai dari Char Kway Teow, Nasi & Mie Goreng, Laksa, Nasi Lemak dan yang terpopuler adalah Mie Sotong karena antriannya paling panjang so… saya memilih ini sebagai menu makan siang ditemani segelas Es Teh Tarik, kebetulan cuaca di Penang sangat terik maknyosss!!!. Sebenarnya ada foodcort lain yang lebih terkenal tak jauh dari lokasi ini yakni Padang Kota Lama hanya saja kedai-kedai disini baru mulai beroperasi pukul 3 atau 4 sore.

Mie Sotong


Dipisahkan oleh Cornwallis Square berada disisi barat foodcort Penang Esplenade terdapat dua bangunan penting dan memiliki nilai sejarah bagi Penang pada umumnya serta George Town khususnya yakni City Hall & Town Hall. Kedua bangunan ini seperti kaka-beradik yang bediri berdampingan, Town Hall selesai dibangun pada tahun 1880-an sedangkan City  Hall selesai dibangun pada tahun 1903. Saat ini keduanya menjadi Dewan Kota Pulau Penang dan Museum.
 
City Hall
Town Hall


Disisi timur foodcort Penang Esplenade  ditengah persimpangan jalan berdiri kokoh Victoria Clock Tower yang dibangun pada tahun 1897 dengan gaya arsitektur Moor yang dirancang oleh Cheah Chen Eok.

2. St. George Church
Berjalan kearah selatan dari kawasan Cornwallis menyusuri deretan bangunan tua bergaya kolonial dan peranakan kita akan tiba di gereja Anglikan tertua di Penang bahkan di Asia Tenggara yakni St. George Church. Sebagai daerah koloni Inggris menjadi wajar ajaran Anglikan sebagai agama kerajaan masuk ke wilayah Penang. Bangunan bercat putih ini memiliki karakteristik berupa menara runcing pada bagian atap utamanya serta bangunan berkubah yang berada tepat di depan bangunan utamanya. Bangunan ini selesai di bangun pada tahun 1818 dan disucikan pada 11 Mei 1819 oleh Uskup Calcutta, Thomas Fanshawe Middleton.

St. George Church

3. Blue Mansion/ Cheong Fatt Tze.
Tak jauh dari St. George Church terdapat sebuah museum yang exterior bangunannya berwarna biru sehingga bangunan ini disebut Blue Mansion. Dibangun oleh saudagar Cheong Fatt Tze pada abad ke 19, mansion ini memiliki 38 kamar, 5 halaman beralaskan granit, 7 tangga dan 220 jendela. Dahulu menjadi tempat tinggal beliau bersama beberapa istrinya.
 
Blue Mansion

Yang perlu diperhatikan sebelum mengunjungi Blue Mansion ini adalah waktu berkunjung yang hanya dibuka untuk umum pada pukul 11.00, 14.00 dan 15.30 karena museum ini menerapkan sistem guided tour dengan bahasa pengantar menggunakan bahasa Inggris. Tiket masuk museum ini adalah RM.16,- untuk dewasa  dan RM.8,- untuk anak-anak dibawah 12 tahun.


4. Museum Peranakan Penang
Bangunan bekas kediaman dan kantor taipan Cina abad ke-19 Chung Keng Quee ini didedikasikan bagi warisan kebudayaan peranakan Penang. Secara garis besar museum ini memberikan gambaran kepada kita mengenai budaya peranakan Penang yang dapat dilihat dari berbagai koleksi artefaknya berupa rumah dan penataannya, pakaian baba & nyonya, perhiasan, perabot rumah tangga dan koleksi lainnya.
 
Museum Peranakan Penang
koleksi Museum Peranakan
Tak seperti Blue Mansion museum ini buka sepanjang hari hanya saja jika ingin mengikuti guided tour terdapat beberapa jadwal sesuai pembagian bahasa pengantarnya yakni Mandarin & Inggris. Tiket masuk museum ini adalah RM.20,- untuk dewasa  dan anak-anak dibawah 6 tahun gratis.

5. Street Art
Nah untuk mengeksplorasi street art  ini yang wajib kita pegang adalah peta street art supaya kita tau mau kemana karena ternyata street art ini tersebar dibeberapa area jalan, so… pastikan kita punya petanya ya gaess, jangan seperti saya yang coba-coba telusuri aja jadinya tidak maksimal. Sewaktu kita mengeksplorasi street art ini secara tidak langsung kita akan mengeksplorasi beberapa spot bangunan tua lainnya selain deretan took-toko tua ini. Bangunan tua ini antara lain; Masjid Lebuh Aceh, Khoo Kongsi Temple, bangunan di Lebuh Armenian dan di Lebuh Chulia. Oiya waktu di Lebuh Armenian saya sempat mencoba Es Buah Pala yang seger banget dan menurut saya sih wajib di coba.

es buah pala
 
beberapa street art

Pokonya untuk mengeksplorasi George Town yang musti disiapkan adalah stamina, peta, sunglasses, kamera dan minuman. Sebenernya kalau punya budget lebih bisa juga berkeliling area ini menggunakan jasa becak atau menyewa sepeda di tempat penyewaan maupun sepeda yang telah disediakan oleh pemerintah Penang di titik-titik tertentu yang berbasis aplikasi pada telepon seluler.

6. Kuliner malam di Gurney Foodcort
Setelah lelah dan keringetan sedari siang sampai sore hari pertama ini saya kembali ke penginapan untuk istirahat sebentar dan mandi kemudian lanjut mencari kuliner malam. Untuk kuliner malam saya memilih Gurney Foodcort  karena lokasinya tidak terlalu jauh dari penginapan. Foodcort ini terbagi menjadi dua area yakni area Halal dan Non Halal, driver grab biasanya akan menurunkan kita di area terdekat setelah bertanya kepada kita.

Menu disini lebih banyak daripada yang saya jumpai tadi siang, rupanya foodcort ini memang terkenal sebagai kuliner malam dikawasan Pulau Tikus & Gurney ini. Beberapa menu tadi yang tadi siang saya jumpai ada disini ditambah beberapa menu yang baru dan menarik hati untuk dicicipi antara lain ; Asam Laksa, Oyster Omelet, Sate, Roojak dan yang paling menarik hati saya adalah Pesambor.
Pesambor
 
memilih isian Pesambor

Rupanya Pesambor adalah makanan yang dinikmati bersama-sama oleh beberapa orang karena porsinya yang besar. Isian dari pesambor antara lain berbagai pilihan gorengan olahan seafood dan sayuran (pilihan sesuai selera dan jumlah yang kita pilih sendiri) dengan tambahan irisan mentimun kemudian disiram saus kacang berwarna merah mirip seperti pecel kalau di Indonesia. Melihat warna saos/sambalnya yang merah saya sempat berfikir rasanya akan pedas, ternyata salah saudara-saudara… rasa saos/sambalnya cenderung manis. Memang asik menikmati pesambor ini bersama keluarga, kerabat atau teman. Selesai makan malam saya kembali menuju penginapan untuk istirahat karena besok akan bangun subuh sekaligus membayar kekurangan tidur semalam. lanjut ceritanya nanti lagi ya....

Comments

Popular Posts